Langsung ke konten utama

FOKUS






Biarkan dia fokus. Pada apa yang menjadi jalannya. Jika memang kamu dan dia adalah nama yang telah saling terkait di lauhul mahfuz, maka pasti akan bertemu waktu yang tepat. 
Sudahlah soliha. Jangan lagi teralihkan perhatianmu. Kembali lahh lagj sibuk tingkatkan kualitas dirimu. Bukan kah kamu melihat dia adalah sosok yang mengagumkan? Lantas bukan kah lebih baik kamu pantaskan dirimu untuk mengharap dirinya pada sang pemilik?
Soliha percayalah, dia akan baikbaik saja. Allah akan memberikan penjagaan Nya melalui do'a-do'a mu.

Tidak lah perlu bertanya kabar, mengucapkannya selamat pagi/ selamat malam. Cukuplah kamu melihat dia baikbaiksaja.
Curahkan perhatian Mu dalam takwa agar rindu mu dapat terperantara oleh do'a yang tulus.

Soliha, jika ia belum datang. Bukan berarti Allah tidak menghendaki kau bahagia, coba kembali lihat. Allah masih memberimu kesempatan, merasakan bahagia bersama orang tuamu, bersamq keluargamu, sebelum akhirnya kau harus curahkan abdimu pada lelaki beruntung itu.

Jagalah dirimu, jagalah hatimu, jagalah cintamu.
Hingga saatnya tiba ia datang dan inginkan tanggung jawab atas dunia dan akhiratmu.

:)
Dari : ku
Untuk : ku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

"tapi sebenernya benar atau salah itu nggak berarti lagi, nggak ada pemenang..."