12.7.26

Berkaca-kaca

 


Hari ini aku bertengkar (lagi).

Padahal rasanya sudah cukup lama sejak terakhir kali kami ribut agak besar. Entah kenapa, setiap bertengkar rasanya tetap sama. Sedih. Seolah dunia runtuh sebentar.

Aku langsung naik ke kamar. Diam. Merenung. Memikirkan semua yang barusan terjadi.

Lalu, iseng buka media sosial.

Pas sekali yang muncul lagu Berkaca-kaca.

“Coba kau cari, apakah ada di luar sana…”

Saat itu rasanya seperti semesta sedang ikut mengamini perasaanku. 🥹

Padahal, setelah semuanya reda dan kami berbaikan, aku malah jadi ketawa sendiri. Dipikir-pikir lagi, ternyata masalahnya sepele banget.

Maaf ya… perempuan memang kadang suka sensitif. 😭

Kalau dipikir lagi, suamiku itu sabarnya luar biasa. Kadang aku sampai heran, kok bisa ada manusia sesabar itu menghadapi manusia seperti aku.

Setelah baikan, dia minta maaf. Aku juga tentu minta maaf. Tapi karena yang lebih drama memang aku, ya… wajar kalau dia masih harus nambahin sedikit bujuk-bujuk. 🤍

Begitulah rumah tangga.

Kadang bertengkar, kadang berbaikan.

Bukan tentang siapa yang paling benar, tapi tentang sama-sama memilih untuk tetap pulang ke hati yang sama.

Intinya…

Aku sayang suamiku. 🤍


2.7.26

Tulisan di 30 Tahun Usiaku



Dulu, aku cuma bisa bayangin umur 30 itu tua banget sih.

Kayaknya di usia itu orang orang tuh akan sudah selesai dengan usaha keras di hidupnya gak sih?

Sudah punya pekerjaan yang mapan, sudah tahu arah hidupnya, sudah gak bingung lagi menentukan pilihan. Pokoknya, kalau sudah kepala tiga, seperti rasanya hidup pasti lebih jelas.

Terus sekarang aku ada di usia itu.

Dan… ternyata biasa aja.

Kadang…

Aku masih punya rasa bingung.

Masih sering overthinking.

Masih suka nanya ke diri sendiri, “Ini udah bener belum ya?”

Yang berubah ternyata bukan hidupnya.

Yang berubah cuma tenaga dan energiku.

Aku udah gak sebersemangat dulu buat membuktikan sesuatu. Gak lagi segigih itu mengejar pengakuan orang. Bahkan untuk menjelaskan diri sendiri ke orang lain aja kadang rasanya malas.

Dulu kalau ada yang gak suka sama aku, rasanya pengin dicari tahu salahnya di mana.

Sekarang?

Yaudah.

Capek. Hehe

Bukan karena aku merasa paling benar. Tapi karena ternyata gak semua hal memang harus dijelaskan.

Aku juga udah gak terlalu punya energi buat mengejar hidupku sesuai standar hidup orang lain. Dulu lihat orang seumuran tuh udah ini, udah itu, rasanya kayak dikejar-kejar waktu.

Sekarang masih kepikiran sih… tapi cuma sebentar.

Habis itu ingat, hidup ternyata bukan lomba lari.

Masing-masing orang lagi sibuk menyelesaikan bagiannya sendiri.

Yang lucu, waktu kecil aku takut jadi tua.

Sekarang justru aku bersyukur bisa sampai di usia ini.

Karena ternyata bertambah umur bukan cuma soal angka. Tapi tentang pelan-pelan kehilangan keinginan untuk hidup demi tepuk tangan orang lain.

Mungkin itu yang berubah ketika usiaku menginjak 30.

Bukan hidupku yang tiba-tiba jadi sempurna.

Aku cuma mulai belajar memilih, mana yang benar-benar layak menghabiskan energiku.


Waktu



Bagaimana jika yang selama ini kita sebut sebagai “salah waktu”, ternyata bukan kesalahan sama sekali?

Aku pernah berpikir, selama seseorang datang dengan niat yang baik dan perasaan yang tulus, semuanya akan baik-baik saja. Padahal kenyataannya, hidup tidak sesederhana itu.

Ada satu hal yang sering tak luput dari pembicaraan tentang suatu kisah, apa itu? waktu.

Banyak orang sibuk mencari sosok yang tepat, sibuk menimbang seberapa besar rasa yang dimiliki, atau mempertanyakan siapa yang lebih mencintai. Padahal kadang yang paling menentukan malah bukan itu semua. Melainkan, “kapan” dua hati itu bertemu.

Bayangkan ada seseorang yang datang ketika kita sedang hancur-hancurnya. Ia membawa ketulusan, kesabaran dan semua hal yang selama ini kita butuhkan. Ia hadir bukan untuk melukai.

Waktu.......

Mengenalmu membuatku menjadi seseorang yang terlambat, aku bukan orang yang terlalu tepat waktu, tapi aku juga tidak biasa dan tidak suka un...