24.7.20

Iya... Aku berbohong...

maaf aku berbohong padamu, jika harus aku katakan dibalik kata baik-baik saja saat kamu begitu samar dalam nyataku, padahal begitu nyata dalam anganku.
maaf jika aku katakan kalau aku baik-baik saja, padahal bersamaan hatiku sedang lelah menjamu rindu yang tak henti berkunjung.

aku tidak ingin membagi sedihku padamu, biarlah hanya aku dan yang Maha Mendengar tangisku yang tau seberapa sesak aku menginginkan agar Ia tunjukkan kuasanya untuk hanya sekedar menghadirkan dirimu untukku, hal yang tidaklah sulit dan tidaklah mustahil bagi-Nya.

maaf aku berbohong, ketika ku katakan kalau aku percaya kamu baik-baik saja sementara otak dan hatiku terus bekerja dengan banyak praduga, dibalik semua keterbatasann yang harus ku hadapi ketika aku menemani bayanganmu.

kepadamu yang hadirnya akan membuat sang rindu berpulang, memberitahunya kalau waktu bertamu sudah usai, karena saat itu kala pada akhirnya aku bisa melihat senyata-nyatanya kedua matamu dan mendengar sejelas-jelasnya suara tenangmu. ntah kapan, ntah akankah.... 

aku berbohong bahkan pada diriku sendiri, mengatakan pada hatiku seakan apa yang aku andaikan tentangmu adalah  hal pasti yang tidak perlu ku takut sia-sia, padahal sejujurnya seperti yang sama-sama aku dan dirimu tau, semuanya yang mengelilingi kita masih berwujud harap ... 
 

4.7.20

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak. 
Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya.

ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan.

aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa. 
bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yakin semua akan kembali pada biasa menjadi kamu dan aku.

kamu seperti datang tersenyum dan diam, tanpa bicara atau mengulurkan tangan, tapi yang jadi pertanyaanku, kenapa harus dengan senyum itu? yang jika saja hilang, mungkin sirine sesak didadaku akan aktif.

kamu menahanku hanya dengan diam mu, tidak dengan menggenggamku atau paling tidak mengatakan untukku tetaplah disini. aku hanya diam menunggu yang diam.

lalu setelahnya tak ada jaminan kamu pun bisa pergi kapan saja.

tapi tidak apa-apa.
terimakasih... mungkin kamu tidak ingin aku jadi jahat dan menyalahkan dirimu atas hal-hal tidak diinginkan yang mungkin saja terjadi pada hatiku nanti.
ya ... kamu sebaik itu ternyata :)

lalu jika kamu melihat hujan dipipiku, kamu tidak perlu merasa bersalah ...
mungkin aku menangis karena lelah naik bianglala.


Menepi....



Mencintai dalam sepi dan rasa sabar mana lagi?
Yang harus 'ku pendam dalam mengagumi dirimu
Melihatmu genggam tangannya, nyaman di dalam pelukannya
Yang mampu membuatku tersadar dan sedikit menepi

1.7.20

Waktu.......


Mengenalmu membuatku menjadi seseorang yang terlambat,
aku bukan orang yang terlalu tepat waktu, tapi aku juga tidak biasa dan tidak suka untuk terlambat.

Di waktu aku terbangun dan masih sibuk dengan sisa kantukku,
kamu sudah hampir usai menyelesaikan sarapanmu....

Di waktu aku mempersiapkan diri untuk rutinitas kerjaku,
kamu sudah larut dalam tugas-tugas kantormu...

Di waktu aku sedang bingung untuk pesan makan siang apa,
kamu justru sudah selesai leha-leha dan kembali pada kerjamu....

bukan kah aku jadi orang yang sangat tidak disiplin jika dibandingkan denganmu? :) 
bahkan tidak hanya pada rutinitas kerja kita,
dipenghujung hari saat kita mengurus lelah kita di waktu kita masing-masing...

saat aku bernapas lega tiba di rumah meluruskan kaki melepas lelah,
kamu sudah bersih dan selesai makan malam...

saat aku merasa sudah punya waktu untuk mengganggumu,
mata lelahmu yang menahan kantuk membuatku tidak tega membuatmu tetap terjaga...
walaupun aku harus sendirian, tapi aku tenang bisa menahan diri untuk tidak jadi perempuan menyebalkan yang membuatmu berkawan dengan lelah...

aku minta maaf tapi aku tau kita tidak bisa menyalahkan siapapun, lebih dari itu aku justru menikmati keadaan ini, sebab aku percaya apa yang kita lalui hari ini adalah sebab atas kuasa-Nya.
lalu sebenarnya ada apa dengan kita?
kita...
ternyata bukan hanya antara kamu dan aku,
tapi yang kuasa menghadirkan "jarak" diantara aku dan dirimu...
berkalikali aku mengingatkan diriku untuk percaya bahwa Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk aku dan dirimu, saat ini Allah hadirkan jarak, Allah ingin mungkin ingin jarak menjaga kita, menjaga kita dari kondisi dekat diwaktu yang salah.
lalu maukah kamu membantuku untuk tetap yakin dan menjaga mimpiku dalam sabar...
sisanya biarlah kita bertawakkal pada apa yang Allah jadikan nantinya :)

tambahan sedikit ku kutip dari film boleh ya..


Waktu.......

Mengenalmu membuatku menjadi seseorang yang terlambat, aku bukan orang yang terlalu tepat waktu, tapi aku juga tidak biasa dan tidak suka un...