Langsung ke konten utama

Early 2020





30 April 2020,

Malam ke -8 di bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan… Ramadhan…

Sungguh suasana Ramadhan yang tidak pernah sekalipun terbayang bias seperti ini,

Ya Allah..
 aku percaya, apa yang terjadi tidaklah lepas dari kuasa dan izin Mu. Maka biarlah aku bertumpu dalam ikhtiar dan do’a dengan segala pasrah ku sebagai seorang hamba yang menerima dengan ikhlas segala yang telah Engkau tentukan.
Corona Virus, covid 19…
 sebutan-sebutan itu  terdengar pada akhir Desember 2019. Sebenarnya aku tidak begitu ingat kapan aku mulai melirik dan perhatian pada berita covid 19 ini, mungkin sekitar pertengahan bulan Januari atau awal Januari, yang bahkan saat itu aku sedang sibuk menyiapkan administrasi perjalan aku dan mama ke Mekkah :’) masyaallah… dengan sama sekali aku duga tentunya, Allah memanggilku untuk berkunjung.
Jujur dengan tanpa rasa takut untuk melakukan perjalan jauh, disaat China sedang genting-gentingnya membuat dunia geger.

3/02/2020

H-4 keberangkatan umroh, masih sibuk ngejar pendingan kerjaan supaya bener-bener nggak nyusahin orang yang udah baik banget mau ngejanjiin backup :’) wkwk, iya kan akum ah sadar semua tuh sibuk, jadi kita harus tetep ya berusaha buat nggak jadi beban.

Hemmm bahkan hari itu aku malah ke LTO buat lapor apa ya waktu itu lupa, Karena urgent, mendadak, ngga ada orang lagi, dan itu udah jam 2. Jadilah Syifa dengan ke-sok-ide’an nya pesen gojek bukan gocar, Karena takut macet, Taunya :”0 masyaallah ujan dong, yaudah gpp gpp. Kayanya kuat deh.
Tapi sumpah sok tau banget emang akutu, dan nggak bakat buat sugesti diri, jadi deh alhamdulillah sakit.
Demam meriang….

Alhamdulillah sakitnya Cuma sebentar, Cuma sehari.
Sambal makin mikir kenapa Allah Maha Baik banget ya.

7/02/2020

Berangkat ….
10 hari perjalanan yang dilalui disana, masyaallah… benerbener nggak terbayar sama apapun, rasanya nggak sanggup nahan air mata dan degup jantung saat bisa menatap ka’bah, serasa begitu dekat dengan Mu Ya Rabb..
Sejujurnya, selama disana, aku ngerasa jadi sebaik-baik nya diriku seumur hidup. Rasa tenang, sikap dan pola piker, nggak tau kenapa. Dan masyaallah udah paling tepat pergi berdua sama mama :’) nggak tau rasanya mau bersyukur gimana lagi, bisa ngerawat mama semaksimal mungkin selama disana.

Syifa rasanya nggak mau pulang, rasanya ingin terus ada disana, bisa ngerasain tenang, bahkan berjam-jam di Masjidil haram dan Nabawi, bikin makin betah.

Pernah dan sering denger cerita pengalaman dari mereka yang sudah pernah melakukan perjalanan ke tanah suci, termasuk juga mama dan bapa. Kalau selama disana kita pasti akan mengalami kejadian-kejadian yang nggak terduga, kita harus banyak sadar diri dan mohon ampun memang.
Dan ya, kalo dipikir kayanya emang aku ngalamin banyak hal nggak terduga sih, ada yang bikin diri aku ngerasa kayanya ini teguran dari Allah buat aku, dan ada juga hal-hal yang bikin diri aku nggak lepas dari rasa syukur.
Demi Allah… benar seperti apa yang aku dengar, kalian pasti ingin kembali.
Iya aku ingin kesana lagi rasanya :’) ya Allah…



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

"tapi sebenernya benar atau salah itu nggak berarti lagi, nggak ada pemenang..."