Langsung ke konten utama

Pindahan...



kamu belum moveon? belum moveon. pasti belum moveon. kenapa sih nggak moveon?

sesungguhnya saya capek dengan semua penghakiman orang-orang seperti ini.
memang apa ya yang menandakan kalo seseorang itu berhasil moveon?
apa dia harus bersama orang baru?
apa salah nya memilih sendiri?
bukan karna belum moveon kok, sendiri itu kan bukan berarti kita masih mengharapkan hal-hal yang udah terlampau jauh dari kita. gimana kalau untuk saat ini kita bisa jauh lebih membuat diri kita bahagia dengan tetap sendiri dan bersama orang-orang yang bisa kita sayang tanpa harus ada yang menyita lebih dari 50% perhatian kita.

apa moveon itu kita harus lupa 100%? berarti kita harus amnesia? *jedotin kepala*

------
Udah ...
Sampe situ...
Tulisan yang aku draft sekitar pertengahan 2017 silam. Sebenernya lupa pernah nulis begitu.

Yang enak dari baca tulisan lama itu. Kaya kita ngerasa masuk ke mesin waktu dan "hi I come from rhe future" enggak sih. Lebih ke geleng-geleng atau manggut-manggut.

Soal move on ini. Ya sipa gak mungkin lupa siapa yang aku maksud dari tulisan itu. Kalau boleh jujur mungkin saat itu sipa bisa dibilang udah moveon sih. Udah berhasil bahagia.
Lah apalagi sekarang ya? Hehe...
Enggak bukan itu sih yang mau dibahas.

Move on itu bukan soal berhasil lupa atau enggak. Ya iya betul.
Move on itu ya kalo kita bisa berhasil untuk gak kembali lagi sih. Paling gak jangan mikir untuk kembali lagi.

Tapi memang biasanya orang punya durasi moveon nya masingmasing.
Kalo aku?
:) jelas...
Lama...
Tapi gatau bener atau gak. Menurut aku.
Durasi yang lama udah paling bener sih.
Kalau masih baru kemarin. Terus udah pindah? :( kamu tuh apa? Pindah rumah atau kost2an aja butuh waktu buat packing kan?
Itu mah bukan pindah. Mungkin cuma temporary macem nginep :(
Jangan gitu ya...
Plis plis...
Beberapa orang yang aku kenal.
Justru mengalami dejavu bersamaan dengan hubungan baru selama fase moveon kaya gitu :( ya cuma kaya ngulang drama yang cerita nya sama tapi diperanin sama aktor yang beda / di remake gitu gak sih?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

"tapi sebenernya benar atau salah itu nggak berarti lagi, nggak ada pemenang..."