Langsung ke konten utama

Postingan

yang Asli yang Mana?

"Syifa itu bawel banget" Kata mama. Bisa cerita panjang lebar, bisa punya banyak hal untuk dikomentari, bisa tiba-tiba membahas hal kecil seolah-olah itu perkara paling penting di dunia. Tapi anehnya, di depan "orang lain" aku sering diam. Lebih banyak mendengar, memperhatikan. Kadang bahkan memilih menyimpan apa yang ingin kukatakan, walaupun sebenarnya di kepala sudah ada banyak sekali kalimat yang berdesakan. Lalu aku sering bertanya sendiri, Jadi, aku yang asli yang mana? Yang bawel atau yang diam? Mungkin keduanya. Aku yang bawel adalah aku ketika merasa aman. Aku yang diam adalah aku ketika sedang membaca keadaan. Bukan berarti yang diam itu palsu. Dan bukan pula yang bawel itu satu-satunya versi diriku yang sebenarnya. Barangkali manusia memang tidak hanya punya satu wajah. Ada bagian dari diri kita yang hanya berani keluar di tempat tertentu, bersama orang-orang tertentu, ketika hati tidak perlu sibuk berjaga-jaga. Jadi kalau aku bisa sangat ramai bersama se...

Dewasa itu apa?

 Dewasa itu mengalah, kan? Mengalah untuk prioritas. Mengalah untuk sesuatu yang lebih penting daripada ego sendiri. Bukan karena tidak mampu melawan. Bukan karena tidak punya pendapat. Bukan pula karena kalah. Tapi karena kita mulai mengerti, bahwa tidak semua hal harus dimenangkan. Ada yang lebih penting daripada menjadi benar. Ada yang lebih penting daripada membuktikan diri. Ada yang lebih penting daripada mempertahankan ego. Mungkin, dewasa adalah ketika kita tahu kapan harus memperjuangkan sesuatu, dan kapan harus mengalah demi sesuatu yang lebih besar.

SELINGKUH

Habis selesai nonton kdrama  Love Affair in the Afternoon . Drama ini tentang perselingkuhan. Tapi ceritanya dibawa dari POV para pelakunya. Mereka digambarkan bukan sebagai orang jahat, melainkan dua manusia yang sama-sama merasa menemukan cinta yang tulus di waktu yang salah. Selesai nonton, aku malah kepikiran satu kalimat yang sering banget aku dengar. “ Selingkuh itu pasti ada sebabnya.” Setiap dengar kalimat itu, aku selalu merasa ada yang mengganjal. Yaaa mungkin memang ada sebabnya. Semua hal yang dilakukan manusia pasti ada sebabnya. Tapi menurutku, punya alasan bukan berarti menjadikannya benar, bukannya itu cuma rasa bersalah yang terus mencari pembenaran? Namanya pernikahan, mana ada yang mulus terus. Pasti ada saat-saat capek. Ada salah paham. Ada rasa kecewa. Ada hari-hari ketika kita mempertanyakan, “Masih kuat nggak ya?” Itu wajar. Justru menurutku, di situlah hubungan diuji. Makanya aku sering bingung ketika ada orang yang bilang mereka selingkuh karena hu...

Berkaca-kaca

  Hari ini aku bertengkar (lagi). Padahal rasanya sudah cukup lama sejak terakhir kali kami ribut agak besar. Entah kenapa, setiap bertengkar rasanya tetap sama. Sedih. Seolah dunia runtuh sebentar. Aku langsung naik ke kamar. Diam. Merenung. Memikirkan semua yang barusan terjadi. Lalu, iseng buka media sosial. Pas sekali yang muncul lagu Berkaca-kaca . “Coba kau cari, apakah ada di luar sana…” Saat itu rasanya seperti semesta sedang ikut mengamini perasaanku. 🥹 Padahal, setelah semuanya reda dan kami berbaikan, aku malah jadi ketawa sendiri. Dipikir-pikir lagi, ternyata masalahnya sepele banget. Maaf ya… perempuan memang kadang suka sensitif. 😭 Kalau dipikir lagi, suamiku itu sabarnya luar biasa. Kadang aku sampai heran, kok bisa ada manusia sesabar itu menghadapi manusia seperti aku. Setelah baikan, dia minta maaf. Aku juga tentu minta maaf. Tapi karena yang lebih drama memang aku, ya… wajar kalau dia masih harus nambahin sedikit bujuk-bujuk. 🤍 Begitulah rumah tangg...

Tulisan di 30 Tahun Usiaku

Dulu, aku cuma bisa bayangin umur 30 itu tua banget sih. Kayaknya di usia itu orang orang tuh akan sudah selesai dengan usaha keras di hidupnya gak sih? Sudah punya pekerjaan yang mapan, sudah tahu arah hidupnya, sudah gak bingung lagi menentukan pilihan. Pokoknya, kalau sudah kepala tiga, seperti rasanya hidup pasti lebih jelas. Terus sekarang aku ada di usia itu. Dan… ternyata biasa aja. Kadang… Aku masih punya rasa bingung. Masih sering overthinking. Masih suka nanya ke diri sendiri, “Ini udah bener belum ya?” Yang berubah ternyata bukan hidupnya. Yang berubah cuma tenaga dan energiku. Aku udah gak sebersemangat dulu buat membuktikan sesuatu. Gak lagi segigih itu mengejar pengakuan orang. Bahkan untuk menjelaskan diri sendiri ke orang lain aja kadang rasanya malas. Dulu kalau ada yang gak suka sama aku, rasanya pengin dicari tahu salahnya di mana. Sekarang? Yaudah. Capek. Hehe Bukan karena aku merasa paling benar. Tapi karena ternyata gak semua hal memang harus dijelas...

Waktu

Bagaimana jika yang selama ini kita sebut sebagai “salah waktu” , ternyata bukan kesalahan sama sekali? Aku pernah berpikir, selama seseorang datang dengan niat yang baik dan perasaan yang tulus, semuanya akan baik-baik saja. Padahal kenyataannya, hidup tidak sesederhana itu. Ada satu hal yang sering tak luput dari pembicaraan tentang suatu kisah, apa itu? waktu. Banyak orang sibuk mencari sosok yang tepat, sibuk menimbang seberapa besar rasa yang dimiliki, atau mempertanyakan siapa yang lebih mencintai. Padahal kadang yang paling menentukan malah bukan itu semua. Melainkan, “kapan” dua hati itu bertemu. Bayangkan ada seseorang yang datang ketika kita sedang hancur-hancurnya. Ia membawa ketulusan, kesabaran dan semua hal yang selama ini kita butuhkan. Ia hadir bukan untuk melukai.

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...