23.12.21

Tulisan Bulan Desember





 Kata orang,

Sabar itu ada batasnya, tapi...

dimana kita bisa tau sampai dimana batas itu?

tidak ada tolak ukur pasti. Jadiii. bisa aja kan yang dibilag "saya sudah sampai batas sabar", jangan-jangan sebenarnya dia masih bisa sabar.

= belum limit.

Lalu... "penyesalan selalu datang di akhir" itu benar, saat kita sudah tau akhirnya, baru deh kita bisa evaluasi tindakan yang sebelumnya kita ambil, apakah itu pilihan yang tepat.

atau justru, pilihan keliru yang setelahnya kita bisa lanjutkan dengan ucapan "seandainya aku bisa lebih sabar".

Seandainya...

seandainya begini

senadainya begitu

"Seandainya" kalau ditaruh diawal itu terdengar seperti sebuah harapan,

tapi kalau ada di akhir cerita, itu untuk apa?

itu hanya wadah untuk menampung rasa sesal kan.



14.11.21

Dear Aku...

* Tulisan ini menggambarkan situasi diriku 2 / 3 bulan lalu.

Hari ini kenapa? ntah terasa terlalu serba salah. Aku mencoba diam, menatap cermin, ku lihat sosok diriku, perempuan yang telah terlalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja. padahal jauh didalam sana, ia sangat lelah. 

Me : kamu kenapa?

Also me : :')

Me : capek ya?

Also me : tapi aku harus kuat.

Me : nggak usah dipaksain, istirahat aja dulu. sekuat apapun kamu, kalau dipaksain nggak akan baik jadinya.

Also me : tapi kan harus gimana lagi? kita harus jalananin !

Me : iya sih :')


Dear aku,

Terima kasih ya sudah berusaha bertahan sejauh ini, terima kasih untuk selalu jadi perempuan yang nggak suka nyusahin orang lain. Jangan terlalu dipaksain, aku nggak akan nyalahin kamu kok kalau kadang kamu cengeng, kalau kamu mau nangis karena capek, nangis aja nggak apa-apa yaa. Aku bangga sama kamu. Terus lakuin yang terbaik yang kamu bisa ya, kalau sudah di limit nya, nanti kita cari jalan lain biar nggak perlu kamu paksain.

aku sayang kamu, aku bangga sama kamu.. terima kasih...



17.7.21

Hari ini Jakarta teduh, bagaimana disana?

semoga cuaca tidak begitu panas dan tidak terlalu dingin untukmu yang selalu ku mohonkan tetap dalam keadaan sehat.

Malam ini...

satu pekan dipenghujung tahun. boleh ku minta dirimu untuk sukarela,  mendengar segala khawatirku?



27.11.20

Boleh kok Sedih...




Mungkin kalian hanya kosong yang tanpa sengaja saling mengisi, kalian hanya sunyi yang saling memecah hening.

Sudah... jangan nangis lagi. bahkan alasan untuk kamu tersenyum masih belum sanggup untuk kamu hitung. 

Kecewamu tidaklah salah kalau kau basuh dengan air mata, tapi hatimu tidak akan makin baik-baik saja.

Daripada mengharap dia perduli padamu, penting kamu harus lebih dulu perduli pada dirimu.

Boleh sedih,

tapi buat apa?

buat dia yang kamu tahan mati-matian tapi baik hati maupun kakinya tetap melangkah menjauh?

kalau dia tidak bisa menilai betapa berharganya tulus yang kamu kasih, coba nilai lagi. apa dia layak?

Sudah biarkan saja ia terbang, untuk apa kamu tetap memaksa untuk merawat sayapnya kalau nyatanya ia tetap tidak ingin terbang bersamamu.

;) 

Boleh kok sedih, tapi... buat apa?

12.8.20

KEMANAPUN

Aku menelusuri langkahku kebelakang, bukan karena aku lelah dan menyerah. 
Karena kita sepakat mencari awal dimana ini bermula, mencari titik dimana hal yang bermakna mengalir dari yang hanya biasa. 
Benarkah? 
Bagaimana kalau sejak awal tidak ada yang biasa.
Bagaimana kalau sejak bait pertama semua memang sudah lebih dari ratarata.
Itu versi ku, lalu pada sudut pandangmu?

Aku kembali pada langkahku, karena tak kudapatkan jawaban.
Dalam perjalanan, aku baru sadar jarak yang sudah ku lampaui, apa benar aku sudah berjalan sejauh ini? Pantas aku merasa agak lelah.

Kemudian setiba diriku pada titik dimana kita memulai kompromi ini, disana aku melihatmu hanya sejauh 2 hasta dari tempatku.

Kamu tak pernah mengawali apapun?
Apakah langkahku terlalu tergesa?
Apakah dirimu menunggu aba-aba?

kenapa kita tidak pernah bisa berjalan beriringan?
jika sejak awal tujuan kita memang sama, atau itu hanya antara aku dan perkiraanku?

jika kamu tidak mau pergi, tidak apa-apa, aku akan disini, menemanimu dan menggenggam tanganmu. kita akan kemana. aku akan mengiringimu dalam gerak langkah maupun diammu. katakan saja, aku ikut, sebab aku tidak ingin kehilanganmu lagi. aku tidak ingin kau mencari lagi walau aku tidak pernah sembunyi.

karena aku sekarang mengerti, kemanapun dan sejauh apapun. jika tanpa kamu, sepertinya aku tidaklah kemana-mana...



24.7.20

Iya... Aku berbohong...

maaf aku berbohong padamu, jika harus aku katakan dibalik kata baik-baik saja saat kamu begitu samar dalam nyataku, padahal begitu nyata dalam anganku.
maaf jika aku katakan kalau aku baik-baik saja, padahal bersamaan hatiku sedang lelah menjamu rindu yang tak henti berkunjung.

aku tidak ingin membagi sedihku padamu, biarlah hanya aku dan yang Maha Mendengar tangisku yang tau seberapa sesak aku menginginkan agar Ia tunjukkan kuasanya untuk hanya sekedar menghadirkan dirimu untukku, hal yang tidaklah sulit dan tidaklah mustahil bagi-Nya.

maaf aku berbohong, ketika ku katakan kalau aku percaya kamu baik-baik saja sementara otak dan hatiku terus bekerja dengan banyak praduga, dibalik semua keterbatasann yang harus ku hadapi ketika aku menemani bayanganmu.

kepadamu yang hadirnya akan membuat sang rindu berpulang, memberitahunya kalau waktu bertamu sudah usai, karena saat itu kala pada akhirnya aku bisa melihat senyata-nyatanya kedua matamu dan mendengar sejelas-jelasnya suara tenangmu. ntah kapan, ntah akankah.... 

aku berbohong bahkan pada diriku sendiri, mengatakan pada hatiku seakan apa yang aku andaikan tentangmu adalah  hal pasti yang tidak perlu ku takut sia-sia, padahal sejujurnya seperti yang sama-sama aku dan dirimu tau, semuanya yang mengelilingi kita masih berwujud harap ... 
 

Waktu.......

Mengenalmu membuatku menjadi seseorang yang terlambat, aku bukan orang yang terlalu tepat waktu, tapi aku juga tidak biasa dan tidak suka un...