Langsung ke konten utama

Boleh kok Sedih...




Mungkin kalian hanya kosong yang tanpa sengaja saling mengisi, kalian hanya sunyi yang saling memecah hening.

Sudah... jangan nangis lagi. bahkan alasan untuk kamu tersenyum masih belum sanggup untuk kamu hitung. 

Kecewamu tidaklah salah kalau kau basuh dengan air mata, tapi hatimu tidak akan makin baik-baik saja.

Daripada mengharap dia perduli padamu, penting kamu harus lebih dulu perduli pada dirimu.

Boleh sedih,

tapi buat apa?

buat dia yang kamu tahan mati-matian tapi baik hati maupun kakinya tetap melangkah menjauh?

kalau dia tidak bisa menilai betapa berharganya tulus yang kamu kasih, coba nilai lagi. apa dia layak?

Sudah biarkan saja ia terbang, untuk apa kamu tetap memaksa untuk merawat sayapnya kalau nyatanya ia tetap tidak ingin terbang bersamamu.

;) 

Boleh kok sedih, tapi... buat apa?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

"tapi sebenernya benar atau salah itu nggak berarti lagi, nggak ada pemenang..."