Langsung ke konten utama

KEMANAPUN

Aku menelusuri langkahku kebelakang, bukan karena aku lelah dan menyerah. 
Karena kita sepakat mencari awal dimana ini bermula, mencari titik dimana hal yang bermakna mengalir dari yang hanya biasa. 
Benarkah? 
Bagaimana kalau sejak awal tidak ada yang biasa.
Bagaimana kalau sejak bait pertama semua memang sudah lebih dari ratarata.
Itu versi ku, lalu pada sudut pandangmu?

Aku kembali pada langkahku, karena tak kudapatkan jawaban.
Dalam perjalanan, aku baru sadar jarak yang sudah ku lampaui, apa benar aku sudah berjalan sejauh ini? Pantas aku merasa agak lelah.

Kemudian setiba diriku pada titik dimana kita memulai kompromi ini, disana aku melihatmu hanya sejauh 2 hasta dari tempatku.

Kamu tak pernah mengawali apapun?
Apakah langkahku terlalu tergesa?
Apakah dirimu menunggu aba-aba?

kenapa kita tidak pernah bisa berjalan beriringan?
jika sejak awal tujuan kita memang sama, atau itu hanya antara aku dan perkiraanku?

jika kamu tidak mau pergi, tidak apa-apa, aku akan disini, menemanimu dan menggenggam tanganmu. kita akan kemana. aku akan mengiringimu dalam gerak langkah maupun diammu. katakan saja, aku ikut, sebab aku tidak ingin kehilanganmu lagi. aku tidak ingin kau mencari lagi walau aku tidak pernah sembunyi.

karena aku sekarang mengerti, kemanapun dan sejauh apapun. jika tanpa kamu, sepertinya aku tidaklah kemana-mana...



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

Tulisan di 30 Tahun Usiaku

Dulu, aku cuma bisa bayangin umur 30 itu tua banget sih. Kayaknya di usia itu orang orang tuh akan sudah selesai dengan usaha keras di hidupnya gak sih? Sudah punya pekerjaan yang mapan, sudah tahu arah hidupnya, sudah gak bingung lagi menentukan pilihan. Pokoknya, kalau sudah kepala tiga, seperti rasanya hidup pasti lebih jelas. Terus sekarang aku ada di usia itu. Dan… ternyata biasa aja. Kadang… Aku masih punya rasa bingung. Masih sering overthinking. Masih suka nanya ke diri sendiri, “Ini udah bener belum ya?” Yang berubah ternyata bukan hidupnya. Yang berubah cuma tenaga dan energiku. Aku udah gak sebersemangat dulu buat membuktikan sesuatu. Gak lagi segigih itu mengejar pengakuan orang. Bahkan untuk menjelaskan diri sendiri ke orang lain aja kadang rasanya malas. Dulu kalau ada yang gak suka sama aku, rasanya pengin dicari tahu salahnya di mana. Sekarang? Yaudah. Capek. Hehe Bukan karena aku merasa paling benar. Tapi karena ternyata gak semua hal memang harus dijelas...