Langsung ke konten utama

Iya... Aku berbohong...

maaf aku berbohong padamu, jika harus aku katakan dibalik kata baik-baik saja saat kamu begitu samar dalam nyataku, padahal begitu nyata dalam anganku.
maaf jika aku katakan kalau aku baik-baik saja, padahal bersamaan hatiku sedang lelah menjamu rindu yang tak henti berkunjung.

aku tidak ingin membagi sedihku padamu, biarlah hanya aku dan yang Maha Mendengar tangisku yang tau seberapa sesak aku menginginkan agar Ia tunjukkan kuasanya untuk hanya sekedar menghadirkan dirimu untukku, hal yang tidaklah sulit dan tidaklah mustahil bagi-Nya.

maaf aku berbohong, ketika ku katakan kalau aku percaya kamu baik-baik saja sementara otak dan hatiku terus bekerja dengan banyak praduga, dibalik semua keterbatasann yang harus ku hadapi ketika aku menemani bayanganmu.

kepadamu yang hadirnya akan membuat sang rindu berpulang, memberitahunya kalau waktu bertamu sudah usai, karena saat itu kala pada akhirnya aku bisa melihat senyata-nyatanya kedua matamu dan mendengar sejelas-jelasnya suara tenangmu. ntah kapan, ntah akankah.... 

aku berbohong bahkan pada diriku sendiri, mengatakan pada hatiku seakan apa yang aku andaikan tentangmu adalah  hal pasti yang tidak perlu ku takut sia-sia, padahal sejujurnya seperti yang sama-sama aku dan dirimu tau, semuanya yang mengelilingi kita masih berwujud harap ... 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

Tulisan di 30 Tahun Usiaku

Dulu, aku cuma bisa bayangin umur 30 itu tua banget sih. Kayaknya di usia itu orang orang tuh akan sudah selesai dengan usaha keras di hidupnya gak sih? Sudah punya pekerjaan yang mapan, sudah tahu arah hidupnya, sudah gak bingung lagi menentukan pilihan. Pokoknya, kalau sudah kepala tiga, seperti rasanya hidup pasti lebih jelas. Terus sekarang aku ada di usia itu. Dan… ternyata biasa aja. Kadang… Aku masih punya rasa bingung. Masih sering overthinking. Masih suka nanya ke diri sendiri, “Ini udah bener belum ya?” Yang berubah ternyata bukan hidupnya. Yang berubah cuma tenaga dan energiku. Aku udah gak sebersemangat dulu buat membuktikan sesuatu. Gak lagi segigih itu mengejar pengakuan orang. Bahkan untuk menjelaskan diri sendiri ke orang lain aja kadang rasanya malas. Dulu kalau ada yang gak suka sama aku, rasanya pengin dicari tahu salahnya di mana. Sekarang? Yaudah. Capek. Hehe Bukan karena aku merasa paling benar. Tapi karena ternyata gak semua hal memang harus dijelas...