Langsung ke konten utama

Waktu

Bagaimana jika yang selama ini kita sebut sebagai “salah waktu”, ternyata bukan kesalahan sama sekali?


Aku pernah berpikir, selama seseorang datang dengan niat yang baik dan perasaan yang tulus, semuanya akan baik-baik saja. Padahal kenyataannya, hidup tidak sesederhana itu.

Ada satu hal yang sering tak luput dari pembicaraan tentang suatu kisah, apa itu? waktu.

Banyak orang sibuk mencari sosok yang tepat, sibuk menimbang seberapa besar rasa yang dimiliki, atau mempertanyakan siapa yang lebih mencintai. Padahal kadang yang paling menentukan malah bukan itu semua. Melainkan, “kapan” dua hati itu bertemu.

Bayangkan ada seseorang yang datang ketika kita sedang hancur-hancurnya. Ia membawa ketulusan, kesabaran dan semua hal yang selama ini kita butuhkan. Ia hadir bukan untuk melukai.

Salahnya, justru di saat seperti itu kita sering kali tidak mampu menerima apapun.

Bukan karena ia kurang baik. Bukan karena perasaannya tidak cukup besar. Tetapi karena luka yang kita bawa masih terlalu segar.

Dunia mengartikannya penolakan, walaupun mungkin ada makna berbeda darinya, ketidaksiapan.

waktu berjalan.

Perlahan dengan pasti luka mengering. Ketakutan mulai berkurang. Kita kembali menata apa yang pernah berantakan.

Saat akhirnya hati benar-benar siap membuka pintu lagi, sering kali kita menoleh ke belakang. Mengingat seseorang yang pernah mengetuk pintu itu dengan sangat sabar.

Namun ternyata hidup tidak benarbenar berhenti menunggu.

Seseorang yang dulu datang dengan seluruh keberaniannya ternyata sudah lelah. Bukan karena perasaannya hilang begitu saja, melainkan setiap perjuangan memiliki batas. Ia mungkin masih sesekali melihat dari kejauhan, memastikan kita baik2 saja. Tetapi ia tak lagi datang membawa harapan yang sama.

Dan di saat yang hampir bersamaan, datanglah seseorang yang lain.

Hanya seseorang yang hadir ketika hati kita akhirnya benar-benar siap menerima.

Mungkin di situlah letak ironi paling sunyi dalam sebuah kisah.

Bukan tentang dua orang yang tidak saling berharap. Justru sebaliknya. Mereka saling menemukan, hanya saja tidak pernah berada pada waktu yang sama.

Yang satu datang ketika yang lain masih sibuk menyembuhkan diri.

Yang satu siap ketika yang lain sudah terlalu lelah untuk menunggu.

Tidak ada yang benarbenar salah.

Tidak ada yang benarbenar kalah.

Hanya ada dua manusia yang akhirnya dipisahkan oleh waktu dan langkah.

Aku percaya, dalam kisah manapun, timing bukanlah segalanya. Cinta selalu membutuhkan komitmen, komunikasi, dan keputusan untuk terus bertahan. Tetapi tanpa kesiapan dari kedunya, bahkan ketulusan yang paling besar pun bisa berakhir menjadi cerita yang berlalu.

Karena, seseorang tidak selalu berarti kehilangan apa yang dia inginkan.

Kadang, ia hanya kehilangan waktunya.

Dan mungkin, itulah bentuk perpisahan yang terkadang paling sulit diterima.

Sebab pernah ada kursi yang disiapkan. Aku sempat mengira, yang kami butuhkan hanya waktu. Andai datangnya sedikit lebih lambat, atau sembuhnya sedikit lebih cepat, mungkin ceritanya akan berbeda. 

Namun berlalunya waktu, aku mulai mengerti kalau, waktu bukan sekadar tentang cepat atau lambat. Mungkin, waktu memang salah satu cara Tuhan menjalankan takdir-Nya.

Jadi, bisa jadi…

yang selama ini kita sesali sebagai “waktu yang salah”, ternyata memang bukan kesalahan sama sekali. Tapi justru memang itu cara-Nya membawa kita menuju orang yang seharusnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

Tulisan di 30 Tahun Usiaku

Dulu, aku cuma bisa bayangin umur 30 itu tua banget sih. Kayaknya di usia itu orang orang tuh akan sudah selesai dengan usaha keras di hidupnya gak sih? Sudah punya pekerjaan yang mapan, sudah tahu arah hidupnya, sudah gak bingung lagi menentukan pilihan. Pokoknya, kalau sudah kepala tiga, seperti rasanya hidup pasti lebih jelas. Terus sekarang aku ada di usia itu. Dan… ternyata biasa aja. Kadang… Aku masih punya rasa bingung. Masih sering overthinking. Masih suka nanya ke diri sendiri, “Ini udah bener belum ya?” Yang berubah ternyata bukan hidupnya. Yang berubah cuma tenaga dan energiku. Aku udah gak sebersemangat dulu buat membuktikan sesuatu. Gak lagi segigih itu mengejar pengakuan orang. Bahkan untuk menjelaskan diri sendiri ke orang lain aja kadang rasanya malas. Dulu kalau ada yang gak suka sama aku, rasanya pengin dicari tahu salahnya di mana. Sekarang? Yaudah. Capek. Hehe Bukan karena aku merasa paling benar. Tapi karena ternyata gak semua hal memang harus dijelas...