Bagaimana jika yang selama ini kita sebut sebagai “salah waktu”, ternyata bukan kesalahan sama sekali?
Aku pernah berpikir, selama seseorang datang dengan niat yang baik dan perasaan yang tulus, semuanya akan baik-baik saja. Padahal kenyataannya, hidup tidak sesederhana itu.
Ada satu hal yang sering tak luput dari pembicaraan tentang suatu kisah, apa itu? waktu.
Banyak orang sibuk mencari sosok yang tepat, sibuk menimbang seberapa besar rasa yang dimiliki, atau mempertanyakan siapa yang lebih mencintai. Padahal kadang yang paling menentukan malah bukan itu semua. Melainkan, “kapan” dua hati itu bertemu.
Bayangkan ada seseorang yang datang ketika kita sedang hancur-hancurnya. Ia membawa ketulusan, kesabaran dan semua hal yang selama ini kita butuhkan. Ia hadir bukan untuk melukai.
Salahnya, justru di saat seperti itu kita sering kali tidak mampu menerima apapun.
Bukan karena ia kurang baik. Bukan karena perasaannya tidak cukup besar. Tetapi karena luka yang kita bawa masih terlalu segar.
Dunia mengartikannya penolakan, walaupun mungkin ada makna berbeda darinya, ketidaksiapan.
waktu berjalan.
Perlahan dengan pasti luka mengering. Ketakutan mulai berkurang. Kita kembali menata apa yang pernah berantakan.
Saat akhirnya hati benar-benar siap membuka pintu lagi, sering kali kita menoleh ke belakang. Mengingat seseorang yang pernah mengetuk pintu itu dengan sangat sabar.
Namun ternyata hidup tidak benarbenar berhenti menunggu.
Seseorang yang dulu datang dengan seluruh keberaniannya ternyata sudah lelah. Bukan karena perasaannya hilang begitu saja, melainkan setiap perjuangan memiliki batas. Ia mungkin masih sesekali melihat dari kejauhan, memastikan kita baik2 saja. Tetapi ia tak lagi datang membawa harapan yang sama.
Dan di saat yang hampir bersamaan, datanglah seseorang yang lain.
Hanya seseorang yang hadir ketika hati kita akhirnya benar-benar siap menerima.
Mungkin di situlah letak ironi paling sunyi dalam sebuah kisah.
Bukan tentang dua orang yang tidak saling berharap. Justru sebaliknya. Mereka saling menemukan, hanya saja tidak pernah berada pada waktu yang sama.
Yang satu datang ketika yang lain masih sibuk menyembuhkan diri.
Yang satu siap ketika yang lain sudah terlalu lelah untuk menunggu.
Tidak ada yang benarbenar salah.
Tidak ada yang benarbenar kalah.
Hanya ada dua manusia yang akhirnya dipisahkan oleh waktu dan langkah.
Aku percaya, dalam kisah manapun, timing bukanlah segalanya. Cinta selalu membutuhkan komitmen, komunikasi, dan keputusan untuk terus bertahan. Tetapi tanpa kesiapan dari kedunya, bahkan ketulusan yang paling besar pun bisa berakhir menjadi cerita yang berlalu.
Karena, seseorang tidak selalu berarti kehilangan apa yang dia inginkan.
Kadang, ia hanya kehilangan waktunya.
Dan mungkin, itulah bentuk perpisahan yang terkadang paling sulit diterima.
Sebab pernah ada kursi yang disiapkan. Aku sempat mengira, yang kami butuhkan hanya waktu. Andai datangnya sedikit lebih lambat, atau sembuhnya sedikit lebih cepat, mungkin ceritanya akan berbeda.
Namun berlalunya waktu, aku mulai mengerti kalau, waktu bukan sekadar tentang cepat atau lambat. Mungkin, waktu memang salah satu cara Tuhan menjalankan takdir-Nya.
Jadi, bisa jadi…
yang selama ini kita sesali sebagai “waktu yang salah”, ternyata memang bukan kesalahan sama sekali. Tapi justru memang itu cara-Nya membawa kita menuju orang yang seharusnya.
Komentar
Posting Komentar