12.8.20

KEMANAPUN

Aku menelusuri langkahku kebelakang, bukan karena aku lelah dan menyerah. 
Karena kita sepakat mencari awal dimana ini bermula, mencari titik dimana hal yang bermakna mengalir dari yang hanya biasa. 
Benarkah? 
Bagaimana kalau sejak awal tidak ada yang biasa.
Bagaimana kalau sejak bait pertama semua memang sudah lebih dari ratarata.
Itu versi ku, lalu pada sudut pandangmu?

Aku kembali pada langkahku, karena tak kudapatkan jawaban.
Dalam perjalanan, aku baru sadar jarak yang sudah ku lampaui, apa benar aku sudah berjalan sejauh ini? Pantas aku merasa agak lelah.

Kemudian setiba diriku pada titik dimana kita memulai kompromi ini, disana aku melihatmu hanya sejauh 2 hasta dari tempatku.

Kamu tak pernah mengawali apapun?
Apakah langkahku terlalu tergesa?
Apakah dirimu menunggu aba-aba?

kenapa kita tidak pernah bisa berjalan beriringan?
jika sejak awal tujuan kita memang sama, atau itu hanya antara aku dan perkiraanku?

jika kamu tidak mau pergi, tidak apa-apa, aku akan disini, menemanimu dan menggenggam tanganmu. kita akan kemana. aku akan mengiringimu dalam gerak langkah maupun diammu. katakan saja, aku ikut, sebab aku tidak ingin kehilanganmu lagi. aku tidak ingin kau mencari lagi walau aku tidak pernah sembunyi.

karena aku sekarang mengerti, kemanapun dan sejauh apapun. jika tanpa kamu, sepertinya aku tidaklah kemana-mana...



24.7.20

Iya... Aku berbohong...

maaf aku berbohong padamu, jika harus aku katakan dibalik kata baik-baik saja saat kamu begitu samar dalam nyataku, padahal begitu nyata dalam anganku.
maaf jika aku katakan kalau aku baik-baik saja, padahal bersamaan hatiku sedang lelah menjamu rindu yang tak henti berkunjung.

aku tidak ingin membagi sedihku padamu, biarlah hanya aku dan yang Maha Mendengar tangisku yang tau seberapa sesak aku menginginkan agar Ia tunjukkan kuasanya untuk hanya sekedar menghadirkan dirimu untukku, hal yang tidaklah sulit dan tidaklah mustahil bagi-Nya.

maaf aku berbohong, ketika ku katakan kalau aku percaya kamu baik-baik saja sementara otak dan hatiku terus bekerja dengan banyak praduga, dibalik semua keterbatasann yang harus ku hadapi ketika aku menemani bayanganmu.

kepadamu yang hadirnya akan membuat sang rindu berpulang, memberitahunya kalau waktu bertamu sudah usai, karena saat itu kala pada akhirnya aku bisa melihat senyata-nyatanya kedua matamu dan mendengar sejelas-jelasnya suara tenangmu. ntah kapan, ntah akankah.... 

aku berbohong bahkan pada diriku sendiri, mengatakan pada hatiku seakan apa yang aku andaikan tentangmu adalah  hal pasti yang tidak perlu ku takut sia-sia, padahal sejujurnya seperti yang sama-sama aku dan dirimu tau, semuanya yang mengelilingi kita masih berwujud harap ... 
 

4.7.20

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak. 
Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya.

ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan.

aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa. 
bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yakin semua akan kembali pada biasa menjadi kamu dan aku.

kamu seperti datang tersenyum dan diam, tanpa bicara atau mengulurkan tangan, tapi yang jadi pertanyaanku, kenapa harus dengan senyum itu? yang jika saja hilang, mungkin sirine sesak didadaku akan aktif.

kamu menahanku hanya dengan diam mu, tidak dengan menggenggamku atau paling tidak mengatakan untukku tetaplah disini. aku hanya diam menunggu yang diam.

lalu setelahnya tak ada jaminan kamu pun bisa pergi kapan saja.

tapi tidak apa-apa.
terimakasih... mungkin kamu tidak ingin aku jadi jahat dan menyalahkan dirimu atas hal-hal tidak diinginkan yang mungkin saja terjadi pada hatiku nanti.
ya ... kamu sebaik itu ternyata :)

lalu jika kamu melihat hujan dipipiku, kamu tidak perlu merasa bersalah ...
mungkin aku menangis karena lelah naik bianglala.


Menepi....



Mencintai dalam sepi dan rasa sabar mana lagi?
Yang harus 'ku pendam dalam mengagumi dirimu
Melihatmu genggam tangannya, nyaman di dalam pelukannya
Yang mampu membuatku tersadar dan sedikit menepi

1.7.20

Waktu.......


Mengenalmu membuatku menjadi seseorang yang terlambat,
aku bukan orang yang terlalu tepat waktu, tapi aku juga tidak biasa dan tidak suka untuk terlambat.

Di waktu aku terbangun dan masih sibuk dengan sisa kantukku,
kamu sudah hampir usai menyelesaikan sarapanmu....

Di waktu aku mempersiapkan diri untuk rutinitas kerjaku,
kamu sudah larut dalam tugas-tugas kantormu...

Di waktu aku sedang bingung untuk pesan makan siang apa,
kamu justru sudah selesai leha-leha dan kembali pada kerjamu....

bukan kah aku jadi orang yang sangat tidak disiplin jika dibandingkan denganmu? :) 
bahkan tidak hanya pada rutinitas kerja kita,
dipenghujung hari saat kita mengurus lelah kita di waktu kita masing-masing...

saat aku bernapas lega tiba di rumah meluruskan kaki melepas lelah,
kamu sudah bersih dan selesai makan malam...

saat aku merasa sudah punya waktu untuk mengganggumu,
mata lelahmu yang menahan kantuk membuatku tidak tega membuatmu tetap terjaga...
walaupun aku harus sendirian, tapi aku tenang bisa menahan diri untuk tidak jadi perempuan menyebalkan yang membuatmu berkawan dengan lelah...

aku minta maaf tapi aku tau kita tidak bisa menyalahkan siapapun, lebih dari itu aku justru menikmati keadaan ini, sebab aku percaya apa yang kita lalui hari ini adalah sebab atas kuasa-Nya.
lalu sebenarnya ada apa dengan kita?
kita...
ternyata bukan hanya antara kamu dan aku,
tapi yang kuasa menghadirkan "jarak" diantara aku dan dirimu...
berkalikali aku mengingatkan diriku untuk percaya bahwa Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk aku dan dirimu, saat ini Allah hadirkan jarak, Allah ingin mungkin ingin jarak menjaga kita, menjaga kita dari kondisi dekat diwaktu yang salah.
lalu maukah kamu membantuku untuk tetap yakin dan menjaga mimpiku dalam sabar...
sisanya biarlah kita bertawakkal pada apa yang Allah jadikan nantinya :)

tambahan sedikit ku kutip dari film boleh ya..


30.6.20

MEREKA

aku dan hidup yang ku jalani...

Meskipun berat dan tak mudah, 
bahkan sering kali ingin menyerah.
tapi aku tau aku harus bertahan,
demi mereka yang menjadikan ku harapan,
mereka yang percaya padaku...
bahkan sebelum aku bisa mempercayai diriku sendiri...

ya...
ayahku...
ibuku...
aku ingin jadi sebaik-baiknya putri untuk mereka...

aku tau dan sadar...
apapun yang sampai saat ini dan nanti sanggup ku lakukan,
tidak akan sebanding dengan semua kasih sayang yang mereka berikan untukku.
bahkan mungkin mereka sering kali kecewa.

ya Allah...
terimakasih telah memberikan kasih sayang sempurna yang Engkau hadirkan melalui tangan lembut mereka,
ya Rabb...
untuk mereka selalu tak pernah henti ku panjatkan do'a pada-Mu, berilah mereka berkah Mu ya Rabb...
berilah mereka sehat, jauhkan mereka dari sakit baik lahir maupun batin,
ya Rahmann...
berikanlah mereka waktu yang panjang untuk bisa menemaniku di dunia yang singkat ini... berikanlah aku kesempatan tak terhitung untuk bisa melukis senyum bahagia diwajah keduanya ya Allah...
-aamiin-


25.6.20

Aku juga bingung.

Kalau pagi ini aku ucapkan maaf, pasti kamu bingung.
Untuk apa?
Sebenarnya ini hasil dari jam jam overthinking tadi di sepertiga malamku.
Aku pun minta maaf pada diriku sendiri.

Aku berkata pada diriku aku tidak layak menyayangimu, seberusaha apapun aku mencoba. Setelah ku pikir lagi, tetap saja aku tidak layak.

Aku mencari halaman kosong dibuku ku.
Untuk ku tulis ceritaku tentang dirimu,
Buku ini sudah hampir full, 70% memang diisi coretan dan sisa nya, adalah segudang rahasiaku yang hanya Allah yang bisa tau tanpa membacanya.

Setelah ku buka lembar per lembar. Akhirnya ada 1 halaman bersih.

Dulu aku berpikir, apapun yang aku ceritakan disini, aku tidak mau membuka seri baru, aku tidak mau menulis chapter II, aku lelah... aku hanya akan menulis yang paling tepat untuk ku tulis, untuk jadi penghabis di lembar kosong itu.

Jadi kamu aku tulis atau tidak? :)
Sudah atau tidak jadi?

Ku lihat lagi, aku sadar walau tidak ingin sadar. Kalau hanya aku yang meyakinkan diriku sendiri, meyakinkan perasaanku kalau aku "benar" telah menyayangi dirimu. Tapi kamu? Kamu mungkin marah kalau aku tetap ragu, tapi biasanya aku percaya perasaanku, dan yang aku rasakan... aku disini sendirian, menatap wajahmu yang terus menjawabku tapi tetap tertunduk.

************

Syifa nulis apa sih bingung...

Waktu.......

Mengenalmu membuatku menjadi seseorang yang terlambat, aku bukan orang yang terlalu tepat waktu, tapi aku juga tidak biasa dan tidak suka un...