Langsung ke konten utama

Aku juga bingung.

Kalau pagi ini aku ucapkan maaf, pasti kamu bingung.
Untuk apa?
Sebenarnya ini hasil dari jam jam overthinking tadi di sepertiga malamku.
Aku pun minta maaf pada diriku sendiri.

Aku berkata pada diriku aku tidak layak menyayangimu, seberusaha apapun aku mencoba. Setelah ku pikir lagi, tetap saja aku tidak layak.

Aku mencari halaman kosong dibuku ku.
Untuk ku tulis ceritaku tentang dirimu,
Buku ini sudah hampir full, 70% memang diisi coretan dan sisa nya, adalah segudang rahasiaku yang hanya Allah yang bisa tau tanpa membacanya.

Setelah ku buka lembar per lembar. Akhirnya ada 1 halaman bersih.

Dulu aku berpikir, apapun yang aku ceritakan disini, aku tidak mau membuka seri baru, aku tidak mau menulis chapter II, aku lelah... aku hanya akan menulis yang paling tepat untuk ku tulis, untuk jadi penghabis di lembar kosong itu.

Jadi kamu aku tulis atau tidak? :)
Sudah atau tidak jadi?

Ku lihat lagi, aku sadar walau tidak ingin sadar. Kalau hanya aku yang meyakinkan diriku sendiri, meyakinkan perasaanku kalau aku "benar" telah menyayangi dirimu. Tapi kamu? Kamu mungkin marah kalau aku tetap ragu, tapi biasanya aku percaya perasaanku, dan yang aku rasakan... aku disini sendirian, menatap wajahmu yang terus menjawabku tapi tetap tertunduk.

************

Syifa nulis apa sih bingung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

"tapi sebenernya benar atau salah itu nggak berarti lagi, nggak ada pemenang..."