16.1.25

Aku Adalah Ibu Baru



(Sebuah Kisah Refleksi Diri)


Awal Sebuah Dunia Baru


Hidupku dulu terasa begitu sederhana.

Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis—

sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan.

Aku merasa memiliki kendali atas segalanya.


Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku,

semuanya berubah.

Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri.

Ada dunia baru yang menunggu,

dunia yang penuh dengan ketidakpastian,

tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan.


Kau hadir seperti angin yang lembut,

membawa kabar baik sekaligus ketakutan.

Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik?

Tapi satu hal yang pasti:

kau adalah awal dari segalanya.


Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut


Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam.

Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu.

Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu,

dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti?


Hari-hari berlalu dengan cepat, tubuhku mulai berubah.

Aku merasakan detak yang lain selain milikku,

seperti sebuah musik baru yang tiba-tiba hadir dalam hidupku.

Ada saat-saat aku merasa penuh kekhawatiran—

makanan apa yang harus kumakan?

Bagaimana jika aku tidak bisa menjaga dirimu dengan baik?


Namun, setiap kali aku merasakan gerakan kecilmu,

aku tahu kau sedang berkata,

“Aku ada di sini, Bu. Aku bersamamu.”


Bab 2: Menunggu Kehadiranmu


Waktu terasa lambat saat mendekati hari kelahiranmu.

Aku menghitung hari,

mengelus perutku sambil memikirkan namamu.

Apakah kau akan mewarisi senyum ayahmu?

Atau mataku yang sering disebut penuh dengan mimpi?


Aku belajar banyak selama sembilan bulan itu.

Tentang cinta tanpa syarat yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Tentang bagaimana tubuhku menjadi tempat yang aman bagimu.

Tentang bagaimana aku harus melepaskan banyak hal—

kebebasanku, rutinitasku, dan bahkan mimpiku—

demi menyambutmu ke dunia.


Ketika kontraksi pertama datang,

aku tahu aku akan bertemu denganmu segera.

Dan meskipun rasa sakit itu menguasai tubuhku,

aku hanya memikirkan satu hal:

akhirnya, aku akan melihatmu.


Bab 3: Pertemuan Pertama


Tangisanmu adalah musik paling indah yang pernah kudengar.

Aku menangis bersamamu,

merasakan rasa lega yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Aku memandang wajah kecilmu yang memerah,

dan untuk pertama kalinya, aku merasa utuh.


Aku menggenggam tanganmu yang kecil,

dan saat itu aku tahu,

hidupku tidak akan pernah sama lagi.

Kau telah mengubah segalanya.

Kau adalah dunia baru yang selama ini kucari,

meskipun aku belum menyadarinya.


Namun, keindahan ini juga datang dengan rasa takut.

Bagaimana jika aku gagal?

Bagaimana jika aku tidak cukup baik untukmu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikiranku,

tapi aku tahu satu hal: aku akan mencoba.


Bab 4: Malam yang Panjang


Hari-hari setelah kelahiranmu adalah perjalanan yang tidak pernah kubayangkan.

Aku terbangun setiap malam mendengar tangisanmu,

dan meskipun tubuhku lelah, hatiku tetap ingin menjagamu.

Ada saat-saat aku menangis sendiri,

merasa bahwa aku tidak mampu.


Namun, di setiap pagi yang datang,

ketika aku melihat matamu yang penuh kepercayaan,

aku merasa diberi kekuatan baru.

Kau membuatku ingin terus maju,

meskipun langkahku terasa berat.


Malam-malam panjang itu mengajarkanku arti cinta yang sejati,

bukan cinta yang penuh dengan kemudahan,

tetapi cinta yang tumbuh dari pengorbanan dan keteguhan.


Bab 5: Gejolak di Dalam Diri


Ada hari-hari ketika aku merindukan diriku yang dulu.

Aku merindukan kebebasan untuk melakukan apa pun yang kumau.

Aku merindukan malam-malam tenang tanpa gangguan.

Aku bahkan merindukan mimpiku yang terasa begitu jauh sekarang.


Namun, di tengah semua itu, aku menyadari sesuatu.

Aku tidak kehilangan diriku—

aku sedang menemukan diriku yang baru.

Diriku yang lebih kuat, lebih penuh cinta, dan lebih memahami makna hidup.


Kau mengajarkanku bahwa menjadi ibu bukan berarti kehilangan segalanya.

Ini adalah tentang menemukan makna yang lebih dalam dalam hal-hal kecil:

tawa pertamamu, langkah pertamamu, dan setiap momen kecil yang kita bagi bersama.


Bab 6: Hubungan yang Tumbuh


Setiap hari bersamamu adalah pelajaran baru.

Aku belajar bahwa kau bukan hanya bayi kecil yang membutuhkan perlindungan,

tetapi juga seorang individu yang memiliki kepribadian unik.


Aku belajar membaca tangisanmu, memahami keinginanmu,

dan bahkan menemukan cara untuk menenangkanmu.

Dalam proses ini, aku merasa semakin terhubung denganmu.


Kau mengajarkanku bahwa cinta sejati adalah tentang memberi,

tanpa mengharapkan imbalan apa pun.


Bab 7: Dunia Baru yang Kita Bangun Bersama


Hidupku sekarang adalah hidup yang baru.

Aku mungkin tidak lagi memiliki waktu untuk diriku sendiri,

tetapi aku memiliki sesuatu yang lebih besar:

sebuah dunia yang kita bangun bersama.


Dunia ini tidak selalu sempurna.

Ada hari-hari yang penuh dengan kelelahan,

tapi ada juga hari-hari yang penuh dengan keajaiban kecil.

Tawa pertamamu, pelukan hangatmu,

semua itu membuatku merasa bahwa aku telah menemukan tempatku.


Bab 8: Perjalanan yang Terus Berlanjut


Aku tahu perjalanan ini masih panjang.

Akan ada tantangan baru yang menanti kita.

Namun, aku merasa siap,

karena aku tidak sendirian.


Kita akan melewati semuanya bersama—

setiap tangisan, setiap tawa, setiap langkah kecil yang kau ambil.

Dan aku akan selalu ada untukmu,

menjadi pendukung terbesarmu,

seperti kau telah menjadi alasan terbesarku untuk terus maju.


Kau Adalah Cahayaku


Ketika aku melihatmu tidur di pelukanku,

aku tahu bahwa hidupku telah berubah selamanya.

Kau adalah mimpi yang tidak pernah kusadari aku miliki,

cahaya yang memberiku harapan setiap hari.


Hidup ini tidak sempurna,

tapi bersamamu, aku merasa hidup ini cukup.

Aku adalah ibu baru,

dan kau adalah dunia baruku.



20.2.23

Apa kabar?

Saya menulis ini sambil mendengar deru keras suara hujan diluar jendela. Ya, Timika sering hujan deras di waktu sore, ntah seberapa sering hujan disini biasanya, karena saya juga baru disini sekitar 5 bulan sampai dengan Februari ini. Tidak seperti Jakarta, yang mungkin saya bisa lebih percaya diri untuk mendeskripsikan kebiasaan cuaca yang sering terjadi di Jakarta.

hmmm... Jakarta apa kabar ya?

rasanya rindu. Banyak sekali rindunya, rindu dengan gofood, grabfood dan shopeefood, rindu dengan bau Mall, rindu dufan, rindu kemudahan akses untuk cekout belanja online, pokoknya rindu dengan segala fasilitas dan kemudahan akses di Jakarta.

Iya, disini semua terbatas, tapi disini tenang.

5 Bulan disini, mungkin saya bisa sedikit deskripsikan singkat tentang Timika.

Kota kecil yang tenang, yang aroma sejuk embun paginya lebih sejuk, yang terik matahari siang nya lebih terik.

Kota kecil yang mungkin bisa jadi pilihan mu untuk lari dari lelah nya ibu kota.

Kota kecil yang dunia taunya kalau Timika yaa... Freeport, kuala kencana. Padahal kalian harus tau Timika itu tidak cukup hanya dideskripsikan dengan kata itu.

waktu minggu pertama saya datang kesini, saya agak kaget, kenapa semua anak kecil disini selalu main mainan yang ada 2 bola dan bunyi "tek tek tek tek..." itu. iya lato-lato, saya merasakan ini sudah di Oktober 2022, saya rasa itu sebelum lato-lato sepopuler itu di Jakarta, mungkin di Jakarta baru sekitar akhir tahun 2022. Bahkan saya baru tau namanya itu lato-lato saat itu mulai diperkenalkan di TV dan Tiktok. hehe.

Sudah sih, rasanya cukup. Saya disini sangat introvert, hehe. teman saya ya Suami saya, dia tuh seperti tour guide yang selalu ketika saya bilang "kok kamu bisa hapal jalanan disini", dia pasti akan jawab "iya disini cuma kotak kok" hemmm.


30.12.22

Catatan 2022

 2022..
hanya sebuah tahun..
hanya 12 bulan..

tapi ntah buat aku kok rasanya panjang banget ya..

Tahun ini perjalanan aku memasuki fase lanjutan dari hidupku dimulai,
dari mulai ta'aruf, khitbah, hingga akhir nya bisa sah jadi istri.

Tahun ini juga aku resign dari 2 tempat kerja yang berbeda, bukan karena masalah atau apa, tapi karena pilihan juga satu dan lain hal.. aku memutuskan untuk resign, tapi.. selalu.. selalu ada cerita menyenangkan dimasing-masing tempat yang pernah ku singgahi.
Alhamdulillah Allah selalu melangkahkan kakiku ke tempat dimana aku bisa bertemu dan mengenal orang-orang baik.

Tahun ini untuk pertama kali, aku officially jadi anak rantau.. 
si anak mama yang nggak pernah rantau dan selalu cari yang deket-deket dari rumah buat semua kegiatannya ini. qodarullah justru Allah izinkan untuk ikut suami, menemani dia dinas ke Timika, kota kecil yang jauh berbeda dengan hiruk pikuk Jakarta. kota kecil yang serba terbatas dan tidak serba ada seperti Jakarta. tapi insyaallah aku bisa menjalani nya dalam syukur.. karena sudah sama suami juga ^^ hehe..

Inti nya.. Alhamdulillah aku bangga pada diriku, bisa melewati Tahun ini, yang tidak mudah, walau dengan terseok-seok.. tapi kita sampai dipenghujung tahun.

Bismillah.. aku siap ya Allah untuk menjemput seagala Anugerah dan Karunia yang telah Engkau siapkan untuk ku di hari esok..


- Syifa -

23.12.21

Tulisan Bulan Desember





 Kata orang,

Sabar itu ada batasnya, tapi...

dimana kita bisa tau sampai dimana batas itu?

tidak ada tolak ukur pasti. Jadiii. bisa aja kan yang dibilag "saya sudah sampai batas sabar", jangan-jangan sebenarnya dia masih bisa sabar.

= belum limit.

Lalu... "penyesalan selalu datang di akhir" itu benar, saat kita sudah tau akhirnya, baru deh kita bisa evaluasi tindakan yang sebelumnya kita ambil, apakah itu pilihan yang tepat.

atau justru, pilihan keliru yang setelahnya kita bisa lanjutkan dengan ucapan "seandainya aku bisa lebih sabar".

Seandainya...

seandainya begini

senadainya begitu

"Seandainya" kalau ditaruh diawal itu terdengar seperti sebuah harapan,

tapi kalau ada di akhir cerita, itu untuk apa?

itu hanya wadah untuk menampung rasa sesal kan.



Waktu.......

Mengenalmu membuatku menjadi seseorang yang terlambat, aku bukan orang yang terlalu tepat waktu, tapi aku juga tidak biasa dan tidak suka un...