Langsung ke konten utama

Catatan 2022

 2022..
hanya sebuah tahun..
hanya 12 bulan..

tapi ntah buat aku kok rasanya panjang banget ya..

Tahun ini perjalanan aku memasuki fase lanjutan dari hidupku dimulai,
dari mulai ta'aruf, khitbah, hingga akhir nya bisa sah jadi istri.

Tahun ini juga aku resign dari 2 tempat kerja yang berbeda, bukan karena masalah atau apa, tapi karena pilihan juga satu dan lain hal.. aku memutuskan untuk resign, tapi.. selalu.. selalu ada cerita menyenangkan dimasing-masing tempat yang pernah ku singgahi.
Alhamdulillah Allah selalu melangkahkan kakiku ke tempat dimana aku bisa bertemu dan mengenal orang-orang baik.

Tahun ini untuk pertama kali, aku officially jadi anak rantau.. 
si anak mama yang nggak pernah rantau dan selalu cari yang deket-deket dari rumah buat semua kegiatannya ini. qodarullah justru Allah izinkan untuk ikut suami, menemani dia dinas ke Timika, kota kecil yang jauh berbeda dengan hiruk pikuk Jakarta. kota kecil yang serba terbatas dan tidak serba ada seperti Jakarta. tapi insyaallah aku bisa menjalani nya dalam syukur.. karena sudah sama suami juga ^^ hehe..

Inti nya.. Alhamdulillah aku bangga pada diriku, bisa melewati Tahun ini, yang tidak mudah, walau dengan terseok-seok.. tapi kita sampai dipenghujung tahun.

Bismillah.. aku siap ya Allah untuk menjemput seagala Anugerah dan Karunia yang telah Engkau siapkan untuk ku di hari esok..


- Syifa -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

"tapi sebenernya benar atau salah itu nggak berarti lagi, nggak ada pemenang..."