Langsung ke konten utama

Postingan

Iya... Aku berbohong...

maaf aku berbohong padamu, jika harus aku katakan dibalik kata baik-baik saja saat kamu begitu samar dalam nyataku, padahal begitu nyata dalam anganku. maaf jika aku katakan kalau aku baik-baik saja, padahal bersamaan hatiku sedang lelah menjamu rindu yang tak henti berkunjung. aku tidak ingin membagi sedihku padamu, biarlah hanya aku dan yang Maha Mendengar tangisku yang tau seberapa sesak aku menginginkan agar Ia tunjukkan kuasanya untuk hanya sekedar menghadirkan dirimu untukku, hal yang tidaklah sulit dan tidaklah mustahil bagi-Nya. maaf aku berbohong, ketika ku katakan kalau aku percaya kamu baik-baik saja sementara otak dan hatiku terus bekerja dengan banyak praduga, dibalik semua keterbatasann yang harus ku hadapi ketika aku menemani bayanganmu. kepadamu yang hadirnya akan membuat sang rindu berpulang, memberitahunya kalau waktu bertamu sudah usai, karena saat itu kala pada akhirnya aku bisa melihat senyata-nyatanya kedua matamu dan mendengar sejelas-jelasnya suara tenangmu. nta...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

Menepi....

Mencintai dalam sepi dan rasa sabar mana lagi? Yang harus 'ku pendam dalam mengagumi dirimu Melihatmu genggam tangannya, nyaman di dalam pelukannya Yang mampu membuatku tersadar dan sedikit menepi

Waktu.......

Mengenalmu membuatku menjadi seseorang yang terlambat, aku bukan orang yang terlalu tepat waktu, tapi aku juga tidak biasa dan tidak suka untuk terlambat. Di waktu aku terbangun dan masih sibuk dengan sisa kantukku, kamu sudah hampir usai menyelesaikan sarapanmu.... Di waktu aku mempersiapkan diri untuk rutinitas kerjaku, kamu sudah larut dalam tugas-tugas kantormu... Di waktu aku sedang bingung untuk pesan makan siang apa, kamu justru sudah selesai leha-leha dan kembali pada kerjamu.... bukan kah aku jadi orang yang sangat tidak disiplin jika dibandingkan denganmu? :)  bahkan tidak hanya pada rutinitas kerja kita, dipenghujung hari saat kita mengurus lelah kita di waktu kita masing-masing... saat aku bernapas lega tiba di rumah meluruskan kaki melepas lelah, kamu sudah bersih dan selesai makan malam... saat aku merasa sudah punya waktu untuk mengganggumu, mata lelahmu yang menahan kantuk membuatku tidak tega membuatmu tetap terjaga... walaupun aku harus sendirian, tapi aku tenang ...

MEREKA

aku dan hidup yang ku jalani... Meskipun berat dan tak mudah,  bahkan sering kali ingin menyerah. tapi aku tau aku harus bertahan, demi mereka yang menjadikan ku harapan, mereka yang percaya padaku... bahkan sebelum aku bisa mempercayai diriku sendiri... ya... ayahku... ibuku... aku ingin jadi sebaik-baiknya putri untuk mereka... aku tau dan sadar... apapun yang sampai saat ini dan nanti sanggup ku lakukan, tidak akan sebanding dengan semua kasih sayang yang mereka berikan untukku. bahkan mungkin mereka sering kali kecewa. ya Allah... terimakasih telah memberikan kasih sayang sempurna yang Engkau hadirkan melalui tangan lembut mereka, ya Rabb... untuk mereka selalu tak pernah henti ku panjatkan do'a pada-Mu, berilah mereka berkah Mu ya Rabb... berilah mereka sehat, jauhkan mereka dari sakit baik lahir maupun batin, ya Rahmann... berikanlah mereka waktu yang panjang untuk bisa menemaniku di dunia yang singkat ini... berikanlah aku kesempatan tak terhitung untuk bisa melukis senyum b...

Aku juga bingung.

Kalau pagi ini aku ucapkan maaf, pasti kamu bingung. Untuk apa? Sebenarnya ini hasil dari jam jam overthinking tadi di sepertiga malamku. Aku pun minta maaf pada diriku sendiri. Aku berkata pada diriku aku tidak layak menyayangimu, seberusaha apapun aku mencoba. Setelah ku pikir lagi, tetap saja aku tidak layak. Aku mencari halaman kosong dibuku ku. Untuk ku tulis ceritaku tentang dirimu, Buku ini sudah hampir full, 70% memang diisi coretan dan sisa nya, adalah segudang rahasiaku yang hanya Allah yang bisa tau tanpa membacanya. Setelah ku buka lembar per lembar. Akhirnya ada 1 halaman bersih. Dulu aku berpikir, apapun yang aku ceritakan disini, aku tidak mau membuka seri baru, aku tidak mau menulis chapter II, aku lelah... aku hanya akan menulis yang paling tepat untuk ku tulis, untuk jadi penghabis di lembar kosong itu. Jadi kamu aku tulis atau tidak? :) Sudah atau tidak jadi? Ku lihat lagi, aku sadar walau tidak ingin sadar. Kalau hanya aku yang meyakinkan diriku sendiri, meyakinkan ...

CUKUP KAH?

cukup kah perasaan untuk menahan seseorang? cukup kah jujur untuk mendapat percaya? cukup kah memperhatikan untuk dapat paham? cukup kah mendengar untuk dapat membuatmu terus bicara? cukup kah menggenggammu untuk dapat menghilangkan cemasku? kembali ku tanya padamu, cukup kah perasaanmu dengan dia bertahan ? kembali ku tanya padamu, jujurkah kamu jika ia percaya? kembali ku tanya padamu, tetapkah perhatianmu setelah kamu pahami dia? kembali ku tanya padamu, lelahkah pendengaranmu jika ia terus berkata? kembali ku tanya padamu, amankah ia jika tanganmu menggenggamnya? cukup tidaknya sesuatu adalaah tergantung pada dirimu, tergantung pada sejauh mana perjuanganmu dan setinggi apa harapanmu. karena perjuangan dan harapanmu haruslah 2 laju dengan 1 arah, yang akan bertemu pada titik yang sama dalam sebuah cukup.

Ia Takkan Berkehendak

Dear kamu, aku tau aku hanya wanita biasa, aku tau kalau aku hanya satu dari banyak yang mendo'akanmu, aku tau kalau aku hanyalah satu dari mereka yang memantaskan diri untukmu, aku tau kalau aku hanyalah satu dari mereka yang mengagumimu, karena aku tau jumlah teman wanitamu pasti melebihi jumlah yang sanggup ku terka. tapi aku tidak ingin memaksa, aku tidak ingin mengiba. untuk segala yang Allah telah gariskan, aku yakin itu terbaik untuk diriku, karena sememukau apapun kamu dimataku, kalau bagi-Nya kamu bukan yang terbaik bagiku, Ia takkan berkehendak, pun sebaliknya diriku.

Aku pergi yaaaa...

Baiklah... Sudah tidak apa-apa, Walau sebenarnya aku belum ingin dan sungguh tidak ingin. Tau nggak kenapa? Sebenarnya aku ingin menetap, Aku ingin tetap melihat senyummu, Membuatmu tertawa, Tapi aku tetap sadar diri, Sadar porsi dan posisiku. Aku pergi ya, Untuk tak akan mengganggumu lagi, Untuk lenyap dari duniamu, Untuk kembali jadi asing bagimu. Tapi boleh aku minta satu hal? Aku ingin kamu tetap tersenyum dan lebih bahagia. Bahagia yang tidak pernah bisa kamu undang aku didalamnya, Karena aku sadar porsi dan posisi ku, Iya Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah asing yang menginginkan untuk berada dibelakangmu,  mengiringi setiap jejakmu, Mendukung apapun yang jadi citacitamu. (Aku jadi support / tank hehe, demi Allah aku bahagia kamu savage)  Memang aku udah ngelakuin apa ya? Gak ada buktinya ya? Bahkan tanpa pertemuan yang hanya bisa terjadi jika Allah berkehendak. Tapi jauhh dari itu,  Semua tersemat dalam harapan yang ku sebut do'a. Aku sudahi ya... Jadi pengikut ra...

Mungkin Bukan

Sebab bila masih ada ragu, mungkin memang bukan aku yakin yang kamu cari.  Jika masih ada hal dalam diriku yang kemudian membuatmu berpikir untuk menimbangku sesaat setelah kamu mengetahuinya... ya mungkin bukan aku. aku melihatmu dalam kagum bahkan apapun kurangmu aku tidak mau tau, bukan karna aku takut pandanganku akan berubah, tapi apapun itu memang aku tidak perduli, ntah kenapa Allah menjadikanmu lakilaki yg sangat luarbiasa dimataku. tapi.... kamu justru melihatku dari cacatku, aku bukan wanita sempurna, bahkan jauh dari kata itu, aku punya banyak kurang yang bahkan sudah cukup membuatku sedih tanpa perlu opini darimu, jadi terimakasih karna kemudian pandangan dan penilaianmu berhasil semakin mencedarai percaya diriku...