Cukup diingat Saja
Prolog: Rindu yang Tidak Berniat Pulang
Ada rindu yang tidak ingin ditemui.
Tidak ingin disapa.
Tidak ingin diselesaikan.
Ia hanya ingin ada—
seperti lagu lama yang tak lagi diputar,
tapi masih kita hafal nadanya.
Rindu ini tidak meminta apa-apa.
Tidak ingin kembali.
Tidak ingin melanjutkan sesuatu yang bahkan belum sempat dimulai.
Ia hanya ingin diingat.
Dan aku mengizinkannya tinggal.
Bab 1: Kita yang Hampir
Kita pernah berada di jarak yang aneh.
Tidak cukup dekat untuk disebut cerita,
tidak cukup jauh untuk dilupakan.
Ada percakapan yang berhenti di kepala,
ada tawa yang hanya sempat dibayangkan,
ada “seandainya” yang tidak pernah benar-benar diucapkan.
Dan anehnya,
yang hampir itu justru paling lama tinggal.
Bab 2: Rindu yang Tahu Diri
Aku merindukanmu
tanpa ingin memilikinmu.
Tanpa ingin tahu kabarmu hari ini,
tanpa ingin masuk lagi ke duniamu.
Rindu ini sopan.
Ia datang sebentar, duduk diam,
lalu pergi tanpa merusak apa pun.
Tidak mengganggu hidupku sekarang.
Tidak menggoyahkan pilihanku.
Ia hanya mengingatkan:
pernah ada rasa, dan itu cukup.
Bab 3: Tidak Semua Rasa Harus Diperjuangkan
Aku belajar satu hal penting darimu:
tidak semua yang indah harus diperjuangkan,
tidak semua yang hangat harus dimiliki.
Beberapa rasa memang diciptakan
hanya untuk lewat.
Untuk membuktikan bahwa aku bisa merasa sedalam itu—
tanpa harus menahannya.
Dan kamu adalah bukti
bahwa tidak melanjutkan
bukan berarti kalah.
Bab 4: Kita Tidak Gagal
Kita tidak gagal.
Karena kita bahkan tidak memulai.
Tidak ada janji yang dilanggar,
tidak ada masa depan yang runtuh,
tidak ada perpisahan yang perlu ditangisi.
Yang ada hanya satu kenyataan sederhana:
kita bertemu di waktu yang tidak berniat menetap.
Dan itu tidak salah.
Bab 5: Menyimpan Tanpa Membuka Lagi
Aku menyimpanmu
seperti menyimpan surat lama di kotak kecil.
Tidak dibaca ulang setiap hari.
Tidak dibuang juga.
Hanya disimpan—
karena pernah berarti,
bukan karena ingin kembali.
Aku baik-baik saja tanpamu.
Dan aku harap kamu juga baik-baik saja tanpaku.
Epilog: Cukup Dalam Kenangan dan Kisah
Jika suatu hari namamu muncul di kepalaku,
aku tidak akan menolaknya.
Aku akan tersenyum kecil,
lalu melanjutkan hidupku.
Karena rindu ini
bukan panggilan,
bukan undangan,
bukan harapan.
Ia hanya kenangan yang tahu tempatnya.
Dan kisah yang cukup sampai di sini.
Komentar
Posting Komentar