Langsung ke konten utama

Hai




Kepada : Kamu
Dari : Aku

Hai kamu...
yang aku tunggu selama ini,
kalau kamu memang ingin aku, kamu boleh datang dan memintaku kepada waliku, tentudengan segala kesiapanmu.
kamu mau berusaha kan ? aku harap kamu akan sanggup memperlihatkan dan menunjukkan kepada waliku, kalau kamu adalah seseorang yang terbaik, yang mampu menjaga aku sebagai amanahmu.

Hai kamu...
aku tak apa harus sedikit lebih menunggumu, karena aku percaya Allah yang Maha Kuasa yang akan membantu kamu untuk menyegerakan kedatanganmu yang pasti sangat butuh banyak persiapan bukan.
kamu tenang saja, aku disini akan menjaga diriku. aku disini tidak bosan dalam penantianku karena aku punya kesibukkan, aku sibuk memperbaiki diri, aku sibuk memantaskan diriku untukmu.
aku yakin itu takkan lama, hari datangnya kamu akan tiba.
kapanpun itu, aku percaya Allah akan segerakan, karena aku tau kalau kamu disana pun tak luput dari usaha dan do'amu...






-syifa-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

"tapi sebenernya benar atau salah itu nggak berarti lagi, nggak ada pemenang..."