Langsung ke konten utama

Aku Setelah Sidang Skripsi ( Pengalaman jadi Auditor )

Bisa selesai sidang skripsi itu seneng nya luar biasa dan bukan main ya rasanya terbayar semua segala jerih payah dan usaha.
Sidang skripsi yang kaya nya serem banget ternyata nggak semenyeramkan itu pas kita jalanin. ntah rasanya aku enjoy aja dan bahkan ngerasa sangat tidak terbebani selama sidang berlangsung. pertanyaan dan penghakiman yang terus terjurus bisa di jawab dan dibantahkan hehe.
tapi yaaa, mungkin karena terlalu khawatir dan kepikiran dihari-hari sebelumnya, al hasil setelah sidang badan aku drop dan langsung panas demam tinggi besoknya. padahal setelah sidang aku ditawarin untuk gabung ngaudit sama temenku. tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan aku terpaksa harus istirahat 5 hari di rumah.tapi mungkin Allah Maha Baik karena sakitnya aku ini aku jadi bisa istirahat dan alhamdulillah bisa langsung gabung jadi ngelakuin audit setelah sembuh.

Ngambil skripsi dengan tema audit bikin gambaran audit yang ada dikepala itu kaya berkutat lebih mendalam ke teori ._. minim gambaran soal praktek. aku ngaudit sebuah apartemen di daerah maggarai. auditnya deadline sebulan coba, dan tim nya itu 3 orang termasuk aku. selama hari-hari pertama aku cuma bisa maggut-manggut sambil mencoba meraba supaya paham sama apa yang jadi point setiap lagi diskusi sama senior (sumpah ini rasanya kaya... duh apa sih kok bisa begitu, oh itu apa ya. maksunya gini/gitu kali ya. ohhh gitu) dan outputnya aku cuma bisa iya,oh dan manggut wkwk. tapi beberapa hari dan seiring berjalannya waktu aku bisa paham dan ya nggak seperti orang buta banget lah.

lokasi yang jauh aja itu udah memenuhi cape nya aku sebanyak 60% sih kayanya, sebenernya deket sih ya sunter-manggarai. cuma :( macet nya itu loh masyaallah. bawa motor matic jadi beralih fungsi jadi motor trill. :(. tapi itu jadi pengalaman banget sih. berkesan banget itu selama ngaudit jadi benerbener banget dapet ilmu analisis dan sangat menambah wawasan aku soal sistem di kantor, berkutat sama berbagai formula di excel, soal karakteristik karyawan, perilakunya, dan lainlain banget yang aku bisa langsung real di lapangan.

setelah ngaudit selesai. rasanya kaya merdeka ya wkwk. ok ini istirahat sih full di rumah sambil ngelamar-ngelamar (kerja ya bukan ngelamar dia wkwk) ngelamar ke KAP ? ngelamar kok, tapi yang di panggil nya di tempat-tempat lain malah hehe. dan alhamdulillah sekarang udah dapet posisi.
ok I think thats enough, see u  ;)

Komentar

Rini mengatakan…
selamat ya

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

"tapi sebenernya benar atau salah itu nggak berarti lagi, nggak ada pemenang..."