Langsung ke konten utama

positive person

Kadang kita nggak tau apa yang kita lakuin itu salah atau bener, eh bukan kadang sih. malah kita gak pernah bisa tau, nggak ada jaminan. yang bisa kita lakuin yah cuma berbuat dan bertindak sebaik mungkin dalam segala hal.
ada yang bilang... "karena hasil tidak akan pernah menghianati proses"
kaya semacem gitu juga kalau kita berbuat baik ke orang lain, kita nggak pernah tau apakah orang itu memang layak untuk kita curahkan tulusnya kita atau nggak. tapi nggak ada salahnya lah mensugesti diri sama hal-hal positive, nggak akan ada habisnya kalo kaya begini dipikirin terus yang ada malah suudzon setiap saat ke setiap orang :)
jadi orang baik
jadi orang tulus
tetep harus mikir juga sih ya.
kalau nggak, bisa-bisa jatohnya kaya tokoh-tokoh protagonis di sinetron yang hidupnya menderita melulu atau kaya icha yah :'( nggak icha ya gpp kok nggak maksa :')

Jadi gini, coba aja  kita bisa baca isi hati setiap orang ya, biar kita bisa antisipasi haha.
Tapi jangan deh, kita juga nggak mau lah ya isi hati kita dibaca-baca.
yaudah intinya baik aja, tawakkal aja. Allah yang nentuin cerita yang terbaik kok.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

"tapi sebenernya benar atau salah itu nggak berarti lagi, nggak ada pemenang..."