Langsung ke konten utama

Butuh Penghapus

Butuh Penghapus

Memang benar, banyak cara yang bisa lalui untuk menemukanmu, aku hanya cukup membuka kontak di ponselku dan mengetih 3karakter dari namamu. atau membuka hingar bingar dunia sosial media, dan kembali mengetik lagi-lagi 3karakter namamu. lalu kemudian menyapamu dari salah satu jalan tadi.Tapi, apa semuanya ada artinya?pada kenyataannya aku terlalu "takut"ya aku takut mengganggumu, aku takut mengusikmu disaat yang tidak tepat, dan takut kalau sapaanku bukan hanya sekedar tak diharapkan tapi justru yang paling dihindari.lalu untuk apa aku disana hanya melihatmu melalui jalan itu. lebih baik aku tak punya jalan menujumu sama sekali. hanya membuatku takut dan tak bisa berenti dari memperhatikanmu, mengamatimu yang bahkan tak perduli.bukan kah kita butuh penghapus untuk menghapus tirtah yang salah?bukan. bukan aku bermaksud menjadikanmu sebuah kesalahan dalam hidupku. karena itu aku rasa aku tak akan pernah menemukan penghapusnya, jadi yang aku butuhkan adalah kertas baru. dan saat aku mendapatkannya, aku harus memastikan diriku sudah bisa menulis dengan benar, dengan rapih, agar tak lagi aku merasa butuh penghapus seperti sekarang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

"tapi sebenernya benar atau salah itu nggak berarti lagi, nggak ada pemenang..."