Langsung ke konten utama

yang Asli yang Mana?


"Syifa itu bawel banget" Kata mama.

Bisa cerita panjang lebar, bisa punya banyak hal untuk dikomentari, bisa tiba-tiba membahas hal kecil seolah-olah itu perkara paling penting di dunia.

Tapi anehnya, di depan "orang lain" aku sering diam.

Lebih banyak mendengar, memperhatikan.
Kadang bahkan memilih menyimpan apa yang ingin kukatakan, walaupun sebenarnya di kepala sudah ada banyak sekali kalimat yang berdesakan.

Lalu aku sering bertanya sendiri,

Jadi, aku yang asli yang mana?
Yang bawel atau yang diam?

Mungkin keduanya.

Aku yang bawel adalah aku ketika merasa aman.
Aku yang diam adalah aku ketika sedang membaca keadaan.

Bukan berarti yang diam itu palsu.
Dan bukan pula yang bawel itu satu-satunya versi diriku yang sebenarnya.

Barangkali manusia memang tidak hanya punya satu wajah.
Ada bagian dari diri kita yang hanya berani keluar di tempat tertentu, bersama orang-orang tertentu, ketika hati tidak perlu sibuk berjaga-jaga.

Jadi kalau aku bisa sangat ramai bersama seseorang, mungkin bukan karena aku tiba-tiba menjadi orang lain.

Mungkin justru karena di sana,
aku tidak perlu menyembunyikan diriku.

Dan kalau di depan orang lain aku memilih diam,
itu juga tetap aku.

Hanya versi aku yang sedang menjaga diri.

Jadi, yang asli yang mana?

Yang bawel.
Yang diam.
Yang banyak bicara.
Yang memilih menyimpan.

Semuanya aku.

Hanya saja,
tidak semua orang bisa ku beri kesempatan untuk mengenal seluruh versinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan di 30 Tahun Usiaku

Dulu, aku cuma bisa bayangin umur 30 itu tua banget sih. Kayaknya di usia itu orang orang tuh akan sudah selesai dengan usaha keras di hidupnya gak sih? Sudah punya pekerjaan yang mapan, sudah tahu arah hidupnya, sudah gak bingung lagi menentukan pilihan. Pokoknya, kalau sudah kepala tiga, seperti rasanya hidup pasti lebih jelas. Terus sekarang aku ada di usia itu. Dan… ternyata biasa aja. Kadang… Aku masih punya rasa bingung. Masih sering overthinking. Masih suka nanya ke diri sendiri, “Ini udah bener belum ya?” Yang berubah ternyata bukan hidupnya. Yang berubah cuma tenaga dan energiku. Aku udah gak sebersemangat dulu buat membuktikan sesuatu. Gak lagi segigih itu mengejar pengakuan orang. Bahkan untuk menjelaskan diri sendiri ke orang lain aja kadang rasanya malas. Dulu kalau ada yang gak suka sama aku, rasanya pengin dicari tahu salahnya di mana. Sekarang? Yaudah. Capek. Hehe Bukan karena aku merasa paling benar. Tapi karena ternyata gak semua hal memang harus dijelas...

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Waktu

Bagaimana jika yang selama ini kita sebut sebagai “salah waktu” , ternyata bukan kesalahan sama sekali? Aku pernah berpikir, selama seseorang datang dengan niat yang baik dan perasaan yang tulus, semuanya akan baik-baik saja. Padahal kenyataannya, hidup tidak sesederhana itu. Ada satu hal yang sering tak luput dari pembicaraan tentang suatu kisah, apa itu? waktu. Banyak orang sibuk mencari sosok yang tepat, sibuk menimbang seberapa besar rasa yang dimiliki, atau mempertanyakan siapa yang lebih mencintai. Padahal kadang yang paling menentukan malah bukan itu semua. Melainkan, “kapan” dua hati itu bertemu. Bayangkan ada seseorang yang datang ketika kita sedang hancur-hancurnya. Ia membawa ketulusan, kesabaran dan semua hal yang selama ini kita butuhkan. Ia hadir bukan untuk melukai.