Langsung ke konten utama

Jangan Ngeluh, Jangan Sombong


Hasil gambar untuk muslimah


Rasanya ingin balik ke masa lalu. Pernah nggak sih kamu ngalamin rasa jenuh? Pasti pernahya, ngerasa jenuh dengan apa yang kamu miliki saat ini dan ngerasa bosen banget, ngerasa rindu dengan apa yang kamu miliki di masa lalu. Ngerasa rindu dan rasanya mau balik aja ke masa lalu. Masa kecil misalnya, yang kita tau nya Cuma main, sekolah, belajar. Nggak pake pusing mikirin kerjaan dan nggak pusing sama deadline :(
Tapi hidup terus berjalan, berjalan ke depan, kalau lagi jalan kedepan ya litany ke depan kan, bukan liat ke belakang, yang ada malah nanti kita bias nubruk/ jatoh atau kepentok :(
Ya Allah maafkanlah hamba-Mu yang tak bersyukur ini ya Allah.
Coba deh liat diri kamu di cermin, lihat dan hitung nikmat yang Allah udah kasih? Pasti kamu nggak akan sanggup.
Allah selalu kasih apapun untuk kita, bahkan hal-hal yang kita nggak minta sekalipun, betapa Maha Baik nya Allah.
Tanpa pernah aku meminta, Ia memberikanku pengelihatan, tanpa pernah aku meminta, Ia memberikanku kedua kaki.
Ya Allah maafkan aku yang selalu saja mengeluh.
Jadi masih nggak malu buat nggak bersyukur?
Tapi kenapa Allah belum ngabulin do’a kita?
Allah pasti kabulin kok,
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kelurusan.” (al-Baqarah: 186)
ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ
“Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (Ghafir: 60)
Semoga Allah senantiasa menjauhkan kita dari sifat sombong.
Aamiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

"tapi sebenernya benar atau salah itu nggak berarti lagi, nggak ada pemenang..."