Langsung ke konten utama

Annoying Feeling

Bukan mengharap iba dari orang lain. Siapapun yang liat dan yang dengar pasti cuma bisa ngerasa ngerti. padahal... belum tentu.

Bukan karna tidak pernah berusaha untuk melangkah mundur, selama ini aku kira aku telah jauh dari mu karna aku yang hendaki, tapi nyatanya aku hanya terdiam ditempat yang sama dengan perasaan yang kaku. sekarang kamu memang jauh, ya jauh. tapi bukan karna langkahku, tapi kamu yang pergi, atau angin yang membawamu pergi. sebut saja keadaan dan waktu itu adalah angin tadi.

Setelah kita saling membelakangi dan tak saling melihat, nyatanya hanya dirimu yang sanggup pergi menjauh.

dan aku?

aku masih terdiam sendiri ditempat yang sama. ditempat yang sama, dan saat aku kembali menoleh, aku tak bersamamu lagi, tapi perasaanku tak menghendaki aku untuk menerimanya.

kenapa?

entah...

lalu kapan aku berhenti? sampai kapan seperti ini?

entah...

secepatnya itu mauku, tapi nyatanya kadang aku memang seseorang yang sulit sejalan dengan perasaanku sendiri.

bisa dibilang ini adalah perasaan yang menyebalkan, ingin rasanya memarahi perasaan ini. hanya membawa sakit dan jadi duri yang kecil dan sangat kecil hingga tak terlihat dan tak bisa hilang rasa perihnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah Ibu Baru

(Sebuah Kisah Refleksi Diri) Awal Sebuah Dunia Baru Hidupku dulu terasa begitu sederhana. Setiap langkah seperti mengikuti alur yang sudah tertulis— sekolah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang kubangun perlahan. Aku merasa memiliki kendali atas segalanya. Namun, saat aku tahu ada kehidupan kecil yang tumbuh dalam diriku, semuanya berubah. Aku tidak lagi hanya berjalan untuk diriku sendiri. Ada dunia baru yang menunggu, dunia yang penuh dengan ketidakpastian, tetapi juga penuh dengan kemungkinan yang tidak pernah kubayangkan. Kau hadir seperti angin yang lembut, membawa kabar baik sekaligus ketakutan. Apakah aku siap? Apakah aku cukup baik? Tapi satu hal yang pasti: kau adalah awal dari segalanya. Bab 1: Sebuah Kehidupan yang Mulai Berdenyut Ketika dokter pertama kali memberitahuku, aku hanya bisa diam. Ada rasa terkejut, bahagia, dan takut yang bercampur menjadi satu. Aku menyentuh perutku, masih datar saat itu, dan bertanya-tanya, seperti apa kau nanti? Hari-har...

Bianglala...

Malam ini langit cerah, tapi kamu bersikukuh kalau langit hari ini mendung dan dingin. tak ada bantahan, tidak bisa ku paksa cuaca untuk selaras hanya untuk menghibur perasaanku seolah kamu berada hanya beberapa meter disekitar tanah yang ku pijak.  Aku perempuan yang ingin kamu selalu jujur, tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku kalau hati ku senang saat kamu berbohong, mengatakan sekarang baru masuk waktu maghrib, padahal aku tahu jelas-jelas kamu sudah selesai shalat isya. ketika aku menyayangi seseorang, sejujur itu aku pada perasaanku, tapi harusnya ku katakan sebenarnya aku sungguh-sungguh sudah lelah melalui perasaan yang bagai bianglala di wahana dufan ini, sesuka apapun aku naik wahana itu, pasti kepala ku akan pusing dan nafasku akan sesak jika terus menerus ku paksakan. aku tau kita masih bagai abu-abu, belum jelas warna dari cerita ini, ntah hitam atau putih. aku tau kalau aku hanyalah asing yang membuatmu terbiasa.  bahkan jika kita tidak lagi ada, aku yak...

"tapi sebenernya benar atau salah itu nggak berarti lagi, nggak ada pemenang..."